Pendekatan Multisensori Dalam Perancangan Interior Bagi Siswa Tuna Rungu Di SLBN Gedangan

Authors

  • Tirza Maulana Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61579/future.v4i2.893

Keywords:

desain interior inklusif, multisensori, ruang belajar, tuna rungu

Abstract

Siswa tuna rungu memiliki karakteristik pembelajaran yang sangat bergantung pada pengalaman visual dan sensorik non-auditori, sehingga desain ruang belajar berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman dan perilaku siswa tuna rungu dalam berinteraksi dengan ruang belajar di SLBN Gedangan sebagai dasar perumusan konsep perancangan interior pembelajaran inklusif berbasis pendekatan multisensori. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior non-visual, seperti tekstur material, tata letak furnitur, dan pencahayaan, berpengaruh terhadap orientasi ruang, kenyamanan, serta fokus belajar siswa. Pendekatan multisensori dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa tuna rungu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan desain interior pendidikan inklusif.

References

Arthur, P., & Passini, R. (1992). Wayfinding: People, signs, and architecture. McGraw-Hill.

Barrett, P., Davies, F., Zhang, Y., & Barrett, L. (2015). The impact of classroom design on pupils' learning: Final results of a holistic, multi-level analysis. Building and Environment, 89, 118–133. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2015.02.013

Goldstein, E. B. (2011). Sensation and perception (8th ed.). Wadsworth Cengage Learning.

Hanifati, K. (2020). Arsitektur sebagai fenomena kehadiran manusia. Seminar Ilmiah Arsitektur, 2721(8686), 130–138.

Heldanita. (2016). Konsep pendidikan inklusif pada lembaga pendidikan anak usia dini. Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 1(3), 15–24.

Husnul Khotimah. (2019). Analisis kebijakan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang sekolah inklusi. LPPM IAIN Kediri, 17(2), 1–12.

Mace, R. (1998). Universal design in housing. Center for Universal Design, North Carolina State University.

Marschark, M., & Spencer, P. E. (Eds.). (2011). The Oxford handbook of deaf studies, language, and education (Vol. 1, 2nd ed.). Oxford University Press.

Mutia, T. K., & Desiningrum, D. R. (2015). Pengaruh metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan menghafal kata pada anak tunarungu: Studi eksperimental di TK SLB Negeri Semarang. Jurnal Empati, 4(1), 188–194.

Preiser, W. F. E., & Ostroff, E. (Eds.). (2001). Universal design handbook. McGraw-Hill.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Republik Indonesia. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Kementerian Pendidikan Nasional

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Maulana, T. (2026). Pendekatan Multisensori Dalam Perancangan Interior Bagi Siswa Tuna Rungu Di SLBN Gedangan . Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced, 4(2), 1079–1088. https://doi.org/10.61579/future.v4i2.893