Pertanggungjawaban Penyidik Terhadap Korban Salah Tangkap Tindak Pidana (Studi Kasus Nomor 10/Pid.Pra/2024/PN Bdg)

Penulis

  • Romadhon Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, Indonesia
  • Ahmad Sholikhin Ruslie Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61579/future.v3i4.624

Kata Kunci:

Lembaga, Salah Tangkap, Tanggungjawab, Undang-Undang

Abstrak

Kasus salah tangkap sebenarnya sudah menjadi hal umum didengar oleh Masyarakat Indonesia, dari kasus ini berdasarkan Putusan Studi Kasus Nomor 10/Pid.Pra/2024/PN BDG harus ada pertanggungjawaban sesuai dengan peraturan perundang-undang di KUHAP Pasal 95 ayat (1) tentang ganti rugi, Pasal 333 Ayat (1) akan adanya disiplin hal ini bertujuan Untuk mengetahui dan menganalisis pertanggungjawaban penyidik dan perlindungan hukum terhadap korban salah tangkap, analisis ini akan menggunakan penelitian yuridis normative dengan menggunakan pedekatan masalah perUndang-Undang, konseptual, studi kasus dan komparatif, sehingga dari hasil analisis ini adalah lemahnya Lembaga Independen diindonesia yang hanya dari Lembaga Internal saja tidak ada Lembaga eksternal seperti yang telah diterapkan oleh negara Canada yang memiliki Lembaga Eksternal Independen dengan adanya Lembaga LECA yang didirikan pada Tahun 2024 sehingga meminimalisir adanya salah tangkap, dan kepastian hukum.

Referensi

Amostian. (2023). Reformasi Polri Melalui Penguatan Fungsi dan Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional Dalam Melakukan Pengawasan Eksternal Terhadap Polri. Pembangunan Hukum, 515. https://doi.org/doi.org/10.14710/jphi.v5i3.510-522

Arifin, D. A. (n.d.). Kajian Yuridis Tanggung jawab Perdata Rumah sakit Akibat Kelalaian dalam Pelayana Kesehatan. Retrieved May 2, 2025, from https://www.academia.edu/download/115399567/25.pdf

Bashevkin, S. (2023). Explaining Feminist Movement Impact: Provincial Abortion Policies in the Wake of Decriminalization, 1988-2018. Canadian Journal of Political Science, 56(3), 505–5. https://doi.org/10.1017/S0008423923000227

Benny Chan (McGull). (2016). Carter V Canada (AG). McGill Journal of Law and Health, 5. https://lawjournal.mcgill.ca/article/volume-61-index/

Chairul Huda. (2006). Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, Tinjauan Kritis Terhadap Teori Pemisah Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. Pranada Media.

Consolidation The Constitution Acts “Canadian Charter of Rights and Freedoms.” (n.d.).

Davis, I. C. (2019). Taking Prisoners’ Rights Seriously on Substantive Habeas Corpus Review. Canadian Journal of Human Right, 32. https://cjhr.ca/taking-prisonsers-rights-seriously-on-substantive-habeas-corpus-review/

Didik, & Lisatis Gustom. (2008). Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan Antara Norma dan Reaita. PT Raja Grafindo.

Erdianto Effendi. (2022). Penjatuhan Pidana Ganti Rugi Sebagai Pidana Pokok Dalam Kejahatan Terhadap Harta Benda. JURNAL USM LAW REVIEW, 5(1), 625. https://doi.org/10.26623/julr.v5i1.4890

Hidayat, A. (2021). Critical Review Buku “Penelitian Hukum”Peter Mahmud Marzuki Penelitian Hukum Ad Quem Tentang Norma. Yustusia Merdeka, 109. http://yustisia.unmermadiun.ac.id/index.php/yustisia

Ilham, F. N., & Mahyani, A. (2022). Analisis Ganti Kerugian Terhadap Korban Salah Tangkap. Bureaucracy Journal : Indonesia Journal of Law and Social-Political Governance, 2(3), 1052. https://doi.org/10.53363/bureau.v2i3.81

Kasiyati, S. (2020). Law Enforcement in Indonesia in Perspective of Transcendental Legal Justice Paradigm. Journal of Transcendental Law, 2(2), 8. https://doi.org/10.23917/jtl.v2i2.11855

Law-Smith, M. (2024). The Tort of Malicious Prosecution : a Principled Account. McGill Law Journal, 143. https://doi.org/https://doi.org/10.26443/law.v69i2.1526

Losrne Sossin. (2008). Development in Adminstrative Law : The 2000-2001 Term. Social Science Research Network. http://ssrn.com/abstract=1144685

Moeljetno. (2022). Asas-Asas Hukum Pidana. PT Rineka Cipta.

Mukhtas, H. (2019). Anlisis Model Ideal Struktur Organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) Pasca Reformasi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolsian (IPTIK) Jakarta. Jurnal Pemerintahan Dan Keamanan Publik (JP Dan KP), 77. https://doi.org/https://doi.org/10.33701/jpkp.v1i2.705

Nurliah Nurdin, A. U. A. (2022). Hak Asasi Manusia Gender dan Demokrasi (Sebuah Tinjauan Teoritis dan Praktis). CV. Sketsa Media.

Pemerintah Republik Indonesia. (2015). Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 2015. LNRI.

Peter Marzuki. (2005). Penelitian Hukum (Revisi). Kencana.

Putriani Ndrurr. (2022). Tinjauan Yuridis Pasal 333 Juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPIDANA) Terhadap Pelanggaran Tindak Pidana Perampasan Kemerdekaan Orang Lain (Studi Putusan Nomor.439/PIDANA.B/2021/PN.MEDAN). Jurnal Mutiara Hukum, 5, 50. https://doi.org/https://doi.org/10.51544/jmh.v5i1.5454

Safaruddin Harahap, I. (2016). Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Kejahatan Seksual dalam Perspektif Hukum Progresif. Jurnal Media Hukum, 23(1), 37–47. https://doi.org/10.18196/jmh.2015.0066.37-47

Shidarta, S. (2020). Tahanan dan Prinsip Habeas Corpus. Bussines Law. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.19927.39844

Stribopoulos, J. (2003). Unchecked Power: The Constitutional Regulation of Arrest Reconsidered. https://doi.org/https://lawjournal.mcgill.ca/wp-content/uploads/pdf/2684732-Stribopoulos.pdf

Supreme Court of canada: Fleming v. Ontario. (2019). https://www.canlii.org/en/ca/scc/doc/2019/2019scc45/2019scc45.html?utm_source

Tanguay-Renaud, F. (2024a). Section 9 of the Canadian Charter & Arbitrary Laws: a Taxonomy, an Organizational Ideal, and a Path Forward. UBC Law Review, 57(1), 168. https://digitalcommons.osgoode.yorku.ca/scholarly_workshttps://digitalcommons.osgoode.yorku.ca/scholarly_works/3159

Tanguay-Renaud, F. (2024b). Section 9 of the Canadian Charter & Arbitrary Laws: a Taxonomy, an Organizational Ideal, and a Path Forward. UBC Law Review, 57(1), 169. https://digitalcommons.osgoode.yorku.ca/scholarly_workshttps://digitalcommons.osgoode.yorku.ca/scholarly_works/3159

Vernando Satria Bima Murt. (2023). Pemberian Ganti Kerugian Sebagai Pemenuhan HAM Terhadap Korban Salah Tangkap Menurut UU No. 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP. Lex Crimen, https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/lexcrimen/issue/view/3526, 6. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/view/48026

Diterbitkan

2025-11-10

Cara Mengutip

Romadhon, & Ruslie , A. S. (2025). Pertanggungjawaban Penyidik Terhadap Korban Salah Tangkap Tindak Pidana (Studi Kasus Nomor 10/Pid.Pra/2024/PN Bdg) . Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced, 3(4), 1669–1692. https://doi.org/10.61579/future.v3i4.624