Hubungan Pola Konsumsi Minuman Manis Terhadap Prediktor Sindrom Metabolik
DOI:
https://doi.org/10.61579/future.v3i3.615Keywords:
Sugar- Sweetned Beverage (SSB), Obesitas, Kolesterol, HipertensiAbstract
Sugar-Sweetened Beverage (SSB) didefinisikan sebagai minuman yang mengandung gula, seperti soda, jus buah, minuman berenergi, dan lainnya. Menurut WHO, meningkatnya konsumsi minuman manis atau Sugar-Sweetned Beverage (SSB) berkontribusi terhadap kenaikan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) salah satunya adalah Sindrom Metabolik Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola konsumsi minuman manis dengan parameter Sindrom Metabolik yaitu lingkar perut, kadar kolesterol, dan tekanan darah pada Mahasiswa/I Prodi Akutansi Universitas Abulyatama. Penelitian ini dilakukan dengan studi kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dari data primer melalui Semi Quantitative Food Frequency Questinnoaire (SQ-FFQ) untuk melihat konsumsi Sugar- Sweetned Beverage (SSB), pengukuran lingkar perut menggunakan meteran, pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter, serta Nesco lipid monitor sebagai pengukuran kadar kolesterol. Analisis Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola konsumsi minuman manis dengan lingkar perut (P = 0,015), kadar kolesterol (P = 0,012), dan tekanan darah (P = 0,004). Responden dengan pola konsumsi minuman manis yang baik lebih cenderung memiliki lingkar perut, kadar kolesterol, dan tekanan darah dalam kategori normal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaturan frekuensi konsumsi minuman manis berperan penting dalam menjaga indikator Sindrom Metabolik terkait obesitas sentral, kolesterol, dan hipertensi.
References
Dewi, A. (2021). Hubungan konsumsi gula dengan indeks massa tubuh dan obesitas sentral pada remaja. Jurnal Gizi Indonesia, 9(2), 120–128.
Dinas Kesehatan Aceh. (2023). Profil kesehatan Aceh tahun 2023. Banda Aceh: Dinas Kesehatan Aceh.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Situasi konsumsi gula, garam, dan lemak di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Laporan RISKESDAS 2023. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Lestari, N. (2022). Pola makan, gaya hidup sedentari, dan hubungannya dengan sindrom metabolik pada mahasiswa. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(1), 45–53.
Malik, V. S., Li, Y., Pan, A., De Koning, L., Schernhammer, E., Willett, W. C., Hu, F. B., & Sun, Q. (2019). Long-term consumption of sugar-sweetened and artificially sweetened beverages and risk of mortality in US adults. Circulation, 139(18), 2113–2125. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.118.037401
Nuraini, L. (2020). Asupan gula berlebih dan risiko sindrom metabolik pada dewasa muda. Media Gizi dan Kesehatan Indonesia, 15(1), 33–40.
Pratama, R., & Sari, D. (2023). Edukasi gizi dan regulasi konsumsi gula untuk pencegahan sindrom metabolik. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(1), 55–64.
Putri, D., & Handayani, E. (2020). Konsumsi minuman berpemanis dan obesitas sentral pada remaja di Indonesia. Jurnal Gizi dan Pangan, 15(2), 89–98.
Rahmawati, F., & Yusuf, A. (2021). Kebiasaan konsumsi minuman manis dan hubungannya dengan status gizi mahasiswa. Jurnal Kesehatan, 12(2), 101–109.
Syafrizal. (2021). Budaya konsumsi kopi bergula pada mahasiswa Aceh dan implikasinya terhadap kesehatan. Jurnal Sosial dan Kesehatan, 6(3), 77–85.
World Health Organization. (2022). Global report on sugar consumption and non-communicable diseases. Geneva: WHO.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Amila Konatri Suardi, Fakhrul Rizal, Nelly Marissa

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











