Faktor Risiko Kejadian Appendicitis di RSUD Meuraxa Banda Aceh
DOI:
https://doi.org/10.61579/future.v3i4.605Keywords:
Gaya hidup, Indeks Massa Tubuh, Pekerjaan, Jenis Kelamin, UsiaAbstract
Appendicitis merupakan salah satu kasus kegawatdaruratan bedah yang paling sering dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai kelompok usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko kejadian appendicitis di RSUD Meuraxa Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada bulan Februari hingga April 2025. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner dan telaah rekam medis pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, status gizi, pekerjaan, dan gaya hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien appendicitis berada pada rentang usia 18–40 tahun, mayoritas pasien appendicitis berjenis kelamin perempuan, banyak pasien appendicitis memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta, memiliki status gizi overweight, serta lebih banyak memiliki gaya hidup tidak sehat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa usia produktif, jenis kelamin perempuan, status gizi berlebih, pekerjaan swasta, dan gaya hidup tidak sehat merupakan faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian appendicitis. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif terhadap kelompok berisiko sangat penting dilakukan untuk menekan angka kejadian appendicitis.
References
Antu, M., & Suarno, S. (2024). Epidemiologi dan penatalaksanaan appendicitis: Tinjauan literatur. Jurnal Kesehatan Indonesia, 12(1), 45–53.
Cristie, D., Putri, S., & Ramadhan, A. (2021). Perbedaan kejadian appendicitis berdasarkan jenis kelamin di rumah sakit rujukan. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 8(2), 112–118.
Di Saverio, S., Podda, M., De Simone, B., Ceresoli, M., Augustin, G., Gori, A., Boermeester, M., Sartelli, M., Coccolini, F., Tarasconi, A., & others. (2020). Diagnosis and treatment of acute appendicitis: 2020 update of the WSES Jerusalem guidelines. World Journal of Emergency Surgery, 15(27), 1–42.
Fitria, N., Andriani, D., & Santoso, R. (2019). Profil epidemiologi appendicitis di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung. Jurnal Medika, 6(1), 20–26.
Keller, D. S., Swendseid, B., Khorgami, Z., Abu Dayyeh, B. K., & others. (2023). Impact of nutritional status on outcomes in appendicitis: A large multicenter analysis. Journal of Pediatric Surgery, 58(2), 230–236.
Kemenkes RI. (2012). Profil kesehatan Indonesia tahun 2012. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kurniawati, F. (2022). Hubungan pekerjaan dan status gizi dengan kejadian appendicitis. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 14(2), 88–95.
Lestari, W. (2015). Perbandingan angka kejadian dan perforasi appendicitis berdasarkan jenis kelamin. Jurnal Ilmu Kedokteran, 3(1), 15–22.
Nandhini, L., Senthil, N., & Prabhu, R. (2023). Role of dietary fiber and lifestyle in the prevention of appendicitis. International Journal of Surgery Research, 11(4), 56–62.
Natario, M., & Pretangga, B. (2021). Distribusi kejadian appendicitis berdasarkan usia dan jenis kelamin. Jurnal Kesehatan Prima, 15(2), 102–108.
R, S., & Jong, S. (2016). Faktor risiko kejadian appendicitis pada pasien di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 5(4), 1204–1215.
Yusra, M., Amalia, R., & Pratama, A. (2023). Profil pasien appendicitis di RSUD dr. M. Zein Painan. Jurnal Kesehatan Andalas, 12(1), 70–76.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Shiva Dinissa Andini, M. Hendro Mustaqim, Farid Bastian

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











