Adat Meulaot Nelayan di Gampong Ujong Drien

Authors

  • Aldy Maulidi Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia
  • Dhea Imanda Hanum Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia
  • Dina Syahraini Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia
  • Dira Fakhrina Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia
  • Nadia Fahmi Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia
  • Sopar Universitas Teuku Umar, Aceh, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61579/future.v3i3.549

Keywords:

Adat Meulaot, Ujong Drien, Nelayan

Abstract

Adat meulaot merupakan warisan budaya turun-temurun masyarakat nelayan Gampong Ujong Drien, Kabupaten Aceh Barat. Tradisi ini bukan hanya sistem aturan tak tertulis dalam kegiatan melaut, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai sosial, spiritual, dan ekologis yang dijunjung tinggi masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami praktik adat meulaot, memahami peran tokoh-tokoh adat, dan menganalisis tantangan pelestariannya di tengah perkembangan zaman. Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik observasi lapangan, serta wawancara mendalam dengan para informan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adat meulaot masih dijalankan secara aktif oleh masyarakat, didukung oleh lembaga adat dan lembaga pemerintah seperti Panglima Laot, tokoh agama, dan Kepala Gampong. Tradisi seperti keuneunong laot, kenduri laot, serta pantangan waktu melaut dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan nilai- nilai leluhur. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, peran lembaga adat tetap krusial dalam menjaga kelestarian tradisi ini.

References

Bourdieu, P. (1986). The Forms of Capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). New York: Greenwood Press. Boas, F. (1940). Race, Language and Culture. New York: Macmillan.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat di Aceh.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Peraturan Panglima Laot Aceh Nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata Kelola Laut dan Perikanan Tradisional.

Febriandi, Y. (2017). Harmonisasi Islam dan adat: Tinjauan pribumisasi Islam pada adat Panglima Laot di Kuala Langsa, Aceh. Penamas, 30(1), 9-22.

Apriana, Evi. "Kearifan lokal masyarakat aceh dalam konservasi laut." Serambi Saintia: Jurnal Sains dan Aplikasi 4.1 (2016).

Maifizar, Arfriani, Sopar Sopar, and Riki Yulianda. "Budaya kemiskinan nelayan kecil dan buruh nelayan." Community: Pengawas Dinamika Sosial 7.1 (2021): 102-109

Abdillah, L., Sopar, S., Tjoetra, A., & Maifizar, A. (2024). Home Industry sebagai Sarana Pemberdayaan Perempuan di Pulau Sabang. Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik, dan Humaniora, 8(1), 223-231.

Mursyidin, M., Sopar, S., Yulianda, R., Abdillah, L., Sariyanti, L., & Samwil, S. (2025). Peran Panglima Laot Dalam Adaptasi Nelayan Tangkap Di Pulau Banyak Aceh Singkil. Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik, dan Humaniora, 9(1), 242-249.

Nurkhalis, N. (2019). Fungsi Sosial Pada Tradisi Pantang Melaut Masyarakat Pesisir Aceh. Community: Pengawas Dinamika Sosial, 4(2), 155-166

Downloads

Published

2025-07-16

How to Cite

Maulidi, A., Hanum, D. I., Syahraini, D., Fakhrina, D., Fahmi, N., & Sopar. (2025). Adat Meulaot Nelayan di Gampong Ujong Drien. Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced, 3(3), 1158–1163. https://doi.org/10.61579/future.v3i3.549