Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Benih Cempedak (Artocarpus integer Merr.)

Effect of Temperature and Long Storage of Cempedak Seeds (Artocarpus intege Merr.)

Authors

  • Nasrullah Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Gunung Leuser Aceh, Indonesia
  • Joharsyah Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Gunung Leuser Aceh, Indonesia
  • Sudarma JA Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Gunung Leuser Aceh, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.61579/mikhayla.v3i1.841

Keywords:

Benih cempedak, suhu, lama penyimpanan

Abstract

Cempedak (Artocarpus integer Merr.) termasuk kedalam family Moraceae, dan merupakan jenis tanaman lokal (native species) di Pulau Sulawesi. Semua bagian tanaman cempedak bisa dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi dan lama penyimpanan optimum untuk benih cempedak, Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor. Faktor pertama yaitu suhu dengan 2 taraf perlakuan yaitu suhu ruangan (27-28 0C) dan suhu AC (19-20 0C). Faktor kedua adalah lamanya penyimpanan yaitu 0, 4, 8 dan 12 hari, ulangan dipakai sebagai kelompok. Pengelompokkan berdasarkan tingkat kemasakan buah yaitu tua, sedang dan muda. Perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 24 unit percobaan. Setiap unit percobaan digunakan sebanyak 25 benih cempedak (20 benih dikecambahkan dan 5 benih untuk pengukuran kadar air benih) sehingga total benih yang digunakan 600 benih cempedak. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam (Analisys of Varian) dan jika diperoleh pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut DMRT pada selang kepercayaan 5%. Hasil pengujian statistik kadar air benih cempedak menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan lama penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air benih (karena nilai Pr>F lebih besar dari 0.05). Benih cempedak menghasilkan nilai PTM yang tertinggi yaitu 72.98% disusul dengan nilai DB yaitu 53.26% dan KCT yaitu 44.17%.

References

Adelina E, Sutopo L, Guritno B, Kuswanto. 2014. Mutual effect of drying on jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lamk.) seed viability to water critical level for storage indicator. Sch. Acad. J. Biosci. 2 (12B): 909-912.

Aminah A, Syamsuwida D. 2013. Penentuan karakteristik fisiologis benih kranji (Pongamia pinnata) berdasarkan nilai kadar air. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. 10 (1): 1-6.

Bulanjana TW. 2004. Penerapan Metode IPGRI (International Plant Genetic Resources Institute) dalam Mengkaji Sifat Benih Tanaman Agroforestry Artocarpus heterophyllus Lamk dan Durio zibethinus Murray [Karya Tulis]. Institut Pertanian Bogor (ID).

Hasnah TM. 2014. Pengaruh skarifikasi biji terhadap perkecambahan dan pertumbuhan bibit nyamplung. Wana Benih 15(1).

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid II. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.

Lemmens RHMJ, Soerianegara I dan Wong WC (eds.). 1995. Plant Resources of South- East Asia 5(2) Timber trees: Minor commercial timbers. Bogor Indonesia: Prosea.

Lempang M., Suhartanti. 2013. Potensi pengembangan cempedak (Artocarpus integer Merr) pada hutan tanaman rakyat ditinjau dari sifat kayu dan kegunaaannya. 10 (2): 68-83.

Leong L. P dan G. Shui. 2002. An Investigation of Antioxsidant Capacity of Fruit in Singapore Markets. Food Chemistry 76: 69-75

Marliah A, Imran S, Alkausar. 2009. Viabilitas benih nangka (Artocarpus heterophyllus Lmk.) pada pelbagai stadia kemasakan dan letak biji. J. Floratek 4: 65-72.

Napiah A. 2009. Pengaruh Jenis Kemasan dan Tingkat Buah Terhadap Daya Simpan Benih Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor

Pammenter NW, Berjak P. 2008. From Aviceannia to Zizania: recalcitrance in perspective. Ann. Bot. 101:213-228.

Sacande, M., D. Jøker, M.E. Dulloo, & K.A. Thomsen (eds). 2004. Comparative Storage-Biology of Tropical Tree Seeds. International Plant Genetic Resources Institute. Rome.

Syaiful SA, Ishak MA, Jusriana. 2007. Viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L) pada berbagai tingkat kadar air benih dan media simpan benih. J.Agrivigor 6 (3) : 243-251 fhhfj

Schmidt FH dan Ferguson JHA. 1951. Rainfall types based on wet and dry period ratio for Indonesia with Western New Guinea. Verhandeligen No.42. Jakarta: Direktorat Meteorology and Geofisika.

Smith, M. T., & P. Berjak. 1995. Deteriorative changes associated with the loss of viability of stored desiccation tolerant and desiccation sensitive seeds. In J. Kigel and G. Gallili (eds.). Seed Development and Germination. Marcel Dekker. New York. p.701

Sutopo L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syamsuwida, D. dan Aam, A. 2007. Perubahan Kandungan Lemak, Protein, Pati dan Daya Hantar Listrik pada Benih Gaharu (Aquillaria malaccensis). Jurnal Manajemen Hutan Tropika. Volume XIII, No.2. IPB. Bogor.

Triesnawari C, Murniati E, Widajati E. 2014. Perubahan fisik, fisiologi dan biokimia selama pemasakan benih dan studi rekalsitransi benih kemiri sunan. J. Agron. Indonesia 42 (1): 74-79.

Verheij EWM dan Coronel RE. 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Downloads

Published

2026-01-15

How to Cite

Nasrullah, Joharsyah, & JA, S. (2026). Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Benih Cempedak (Artocarpus integer Merr.): Effect of Temperature and Long Storage of Cempedak Seeds (Artocarpus intege Merr.) . MIKHAYLA : Journal of Advanced Research, 3(1), 28–36. https://doi.org/10.61579/mikhayla.v3i1.841